STUDI LAPANGAN KELAS ASTRONOMI ISLAM PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA “Studi lapangan astronomi islam: observasi hilal awal bulan dzulhijjah di pob cidadap sukabumi”

 

Sukabumi, 28 Mei 2025 – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Kegiatan ini diikuti oleh 12 orang mahasiswa yang didampingi oleh 10 orang dosen pendamping, melakukan studi lapangan Ilmu Falak dengan tema “Observasi Hilal Awal Bulan Dzulhijjah” di Pos Observasi Bulan (POB) Cidadap, Kecamatan Simpenan, Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 27 Mei 2025 M / 29 Zulkaidah 1446 H, yang secara hisab merupakan waktu potensial untuk munculnya hilal sebagai penanda awal bulan Dzulhijjah.

Rangkaian Kegiatan Tanggal 27 Mei 2025 :

  1. Pukul 16.00 WIB, rombongan berangkat menuju lokasi menuju POB Palabuhanratu untuk melakukan praktik rukyatul hilal.
  2. Sesampainya di lokasi, rombongan disambut oleh Bapak H. Dedi Wijaya, M.Ag., yang kemudian memberikan penjelasan mengenai sejarah, mekanisme rukyatul hilal, hingga proses pengambilan keputusan melalui sidang isbat, baik yang dilakukan di POB Palabuhanratu maupun POB Simpenan.
  3. Sebelum pelaksanaan rukyat, seluruh peserta berkumpul di masjid untuk membahas teori hisab, dasar-dasar rukyatul hilal, serta meninjau kriteria visibilitas hilal sesuai standar imkanur rukyat.

4. Menjelang waktu magrib, dilakukan praktik observasi hilal menggunakan alat bantu seperti bektan dan teleskop, serta diiringi diskusi mengenai fungsi dan cara kerja alat bantu tersebut dalam mendukung observasi astronomi Islam.

Namun pengamatan hilal pada tanggal tersebut tidak menghasilkan hasil di wilayah Sukabumi. Langit di sekitar ufuk barat tertutup awan tebal sejak menjelang maghrib, sehingga hilal tidak dapat diamati baik dengan mata telanjang maupun melalui teleskop. Meski begitu, para peserta tetap mengikuti seluruh tahapan observasi, mulai dari persiapan alat, pengukuran arah matahari terbenam, hingga simulasi proyeksi visibilitas hilal.

Menurut informasi dari Kementerian Agama, hilal pada 29 Zulkaidah 1446 H hanya berhasil diamati dari wilayah barat Indonesia, khususnya di Aceh. Sementara itu, pada tanggal 28 Mei 2025, hilal sudah dapat diamati secara kasat mata (tanpa alat bantu optik) dari banyak wilayah di Indonesia, termasuk Sukabumi, karena ketinggian dan elongasi bulan sudah memenuhi kriteria imkanur rukyat.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi wahana pembelajaran lapangan, tetapi juga memperkuat pemahaman siswa mengenai pentingnya integrasi antara data astronomi, kondisi atmosfer, dan keputusan keagamaan. Para peserta juga berdiskusi tentang pentingnya rukyat hilal sebagai bentuk kontribusi sains dalam kehidupan umat Islam, khususnya untuk memperingati ibadah seperti Idul Adha.

“Meski hilalnya tidak terlihat di Sukabumi pada hari pertama, kami belajar bahwa fenomena langit tidak selalu bisa diprediksi secara visual, dan inilah tantangan dalam pengamatan hilal. Tapi esok harinya, hilal benar-benar tampak jelas hanya dengan mata telanjang,” ungkap salah satu siswa peserta kegiatan.

Dengan berakhirnya studi lapangan ini, mahasiswa diharapkan mampu menempatkan ilmu falak tidak hanya sebagai teori dalam kelas, tetapi juga sebagai praktik langsung yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

 

 

 

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *