Bandung, 20 Juni 2025 – Dalam rangka penguatan pembelajaran berbasis kontekstual dan integratif, mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika Semester 6 Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, melaksanakan kuliah lapangan ke dua lokasi edukatif di Kota Bandung: Museum Geologi dan Museum Pos Indonesia, pada hari Senin, 16 Juni 2025.
Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi mata kuliah pilihan IPA Terpadu yang bertujuan memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa dalam memahami keterpaduan ilmu Fisika, Biologi, Kimia, dan Geosains, serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dan dunia pendidikan.
🧭 1. Museum Geologi: Mengenal Bumi melalui Perspektif IPA Terpadu
Di Museum Geologi, mahasiswa diajak menjelajahi galeri sejarah pembentukan bumi, struktur lapisan bumi, jenis batuan, serta dampak gejala geologi seperti gempa dan gunung api. Materi ini secara langsung berhubungan dengan konsep fisika bumi (geofisika), tekanan, panas, dan energi dalam.
Dalam konteks IPA Terpadu, mahasiswa diminta untuk mengkaji fenomena geologis dengan pendekatan interdisipliner. Misalnya, dalam proses pembentukan gunung api, mahasiswa memadukan:
- Konsep fisika (tekanan, suhu, aliran fluida),
- Kimia (komposisi magma),
- dan biologi (dampak terhadap ekosistem).
“Saya baru menyadari bahwa konsep tekanan, panas, dan gaya yang kami pelajari di kelas sangat nyata dalam proses terbentuknya lapisan bumi dan gunung api,” ujar salah satu mahasiswa peserta.
📮 2. Museum Pos Indonesia: Teknologi Komunikasi dan Aplikasi Fisika
Museum Pos Indonesia memberikan perspektif unik dalam penerapan konsep fisika dalam teknologi komunikasi, terutama gelombang elektromagnetik, suara, serta sistem transmisi sinyal.
Mahasiswa mengamati evolusi sistem komunikasi dari masa ke masa—dari telegram hingga komunikasi digital modern—dan mengaitkannya dengan:
- Fisika gelombang dan elektromagnetik
- Teknologi informasi
- Integrasi pembelajaran sejarah & IPA
Dalam sesi diskusi, mahasiswa ditantang untuk menyusun rancangan pembelajaran IPA terpadu berbasis sejarah teknologi komunikasi, yang menekankan pentingnya fisika dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami ingin memahami bahwa mengirim pesan tidak hanya sekadar klik, tetapi di baliknya ada fisika gelombang, sinyal, dan energi,” jelas mahasiswa peserta lain.
📚 Keterkaitan dengan Mata Kuliah IPA Terpadu dan Pembelajaran Fisika
Kegiatan ini selaras dengan prinsip IPA Terpadu yaitu mengintegrasikan konsep-konsep dari berbagai cabang IPA ke dalam satu kesatuan pembelajaran yang kontekstual dan bermakna. Kuliah lapangan ini memberi pengalaman langsung bagi mahasiswa untuk:
- Memahami fenomena alam secara holistic
- Merancang pembelajaran berbasis tempat dan berbasis proyek
- Mengembangkan pendekatan saintifik, literasi sains, dan kecakapan abad 21
Selain itu, kegiatan ini mendorong mahasiswa untuk berpikir lintas disiplin, kreatif, dan reflektif dalam mengembangkan model pembelajaran IPA yang terintegrasi.
📸 Dokumentasi Kegiatan
Gambar 1. Foto bersama Rombongan Mahasiswa dan Dosen di depan Museum Geologi

Gambar 2. Mahasiswa mengamati berbagai fosil dan batuan di Museum Geologi

🎓 Penutup
Kuliah lapangan ini merupakan praktik nyata dari pembelajaran IPA Terpadu yang mengedepankan observasi langsung, integrasi ilmu, dan penerapan pedagogi inovatif. Diharapkan kegiatan seperti ini terus berlanjut untuk membekali calon guru dengan pengalaman belajar bermakna yang siap diaplikasikan di ruang kelas.

